Tampilkan posting dengan label Phimosis. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Phimosis. Tampilkan semua posting

Kamis, 08 November 2012

PHIMOSIS


BAB I
PEBDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Phimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium tidak bisa ditarik ke belakang, bisa dikarenakan keadaan sejak lahir atau karena patologi. Pada usia bayi glan penis dan prepusium terjadi adesi sehingga lengket jika terdapat luka pada bagian ini maka akan terjadi perlengketan dan terjadi Phimosis biasanya pada bayi itu adalah hal yang wajar karena keadaan tersebut akan kembali seperti normal dengan bertambahnya umur dan produksi hormon.
Beberapa penelitian mengatakan kejadian Phimosis saat lahir hanya 4% bayi yang preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis terlihat utuh. Selanjutnya secara perlahan terjadi desquamasi sehingga perlekatan itu berkurang. Sampai umur 1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh. Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun, 10% pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan masih ada 1% yang bertahan hingga umur 16-17 tahun. Dari kelompok terakhir ini ada sebagian kecil yang bertahan secara persisten sampai dewasa bila tidak ditangani.
Bila Phimosis menghambat kelancaran berkemih seperti pada ballooning maka sisa-sisa urin mudah terjebak pada bagian dalam preputium dan lembah tersebut kandungan glukosa pada urine menjadi lading subur bagi pertumbuhan bakteri, maka berakibat terjadi infeksi saluran kemih (UTI).
Berdasarkan data tahun 1980-an dilaporkan bahwa anak yang tidak disirkumsisi memiliki resiko menderita UTI 10-20 kali lebih tinggi. Tahun 1993, dituliskan review bahwa resiko terjadi sebesar 12 kali lipat. Tahun 1999 dalam salah satu bagian dari pernyataan AAP tentang sirkumsisi disebutkan bahwa dari 100 anak pada usia 1 tahun. 7-14 anak yang tidak sirkumsisi menderita sedang hanya 1-2 anak pada kelompok yang disirkumsisi. Dua laporkan jurnal tahun 2001 dan 2005 mendukung bahwa sirkumsisi dibawah resiko UTI.
         
1.2     Rumusan Masalah
   Dari uraian diatas dapat ditarik Rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Pengertian Phimosis ?
2.      Etiologi dan patologi Phimosis ?
3.      pathway pre & post op  Phimosis ?




1.3      Tujuan
1        Tujuan Khusus
Untuk memenuhi tugas Keperawatan Medical Bedah III dan semoga kami sebagai penyusun dapat mengambil manfaat serta dapat memperluas wawasan pada pasien dengan diagnosa medis Phimosis pada khususnya.
2        Tujuan Umum
-       Untuk menambah pengetahuan tentang penyakit Phimosis.
-      Untuk mempermudah dalam pembuatan asuhan keperawatan pada pasien     Phimosis.  

1.4      Manfaat
1        Bagi Penyusun
-       Dapat belajar dalam penyusunan keperawatan Phimosis
-       Dapat menambah ilmu dalam pembentukan makalah di bidang kesehatan.
2        Bagi Pendidikan
Sebagai sumbangsih dalam makalah asuhan keperawatan di bidang kesehatan urologi.
3        Bagi Pembaca
Sebagai sedikit pengetahuan tentang asuhan keperawatan bidang kesehatan urologi.







                                                                                   



















BAB II
PEMBAHASAN


  2.1         Definisi
a.    Phimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium penis yang tidak dapat diretaksi keproximal sampai ke korona glandis.
b.    Phimosis adalah keadaan di mana kulit penis (preputium) melekat pada bagian kepala penis (glans).

  2.2        Etiologi
a.    Konginetal (fimosis fisiologis)
 Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir sebenarnya merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis glan dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glan penis. Suatu penelitian mendapatkan bahwa hanya 4% bayi seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis pada saat lahir, namun mencapai 90% pada saat usia 3 tahun dan hanya 1% laki-laki berusia 17 tahun yang masih mengalami fimosis kongenital. Walaupun demikian, penelitian lain mendapatkan hanya 20% dan 200 anak laki-laki berusia
5-13 tahun yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis.
b.    Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbul kemudian setelah. Hal ini berkaitan dengan kebersihan hygiene) alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada timosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.

  2.3        Manifestasi Klinis
        Gangguan aliran urin seperti sulit kencing, pancaran urin mengecil, menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi dan menimbulkan retensi urin. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans penis dan prepusium penis (balanopostitis). Kadang ada benjolan lunak di ujung penis karena adanya korpus smegma (timbunan smegma didalam sakus prepusium penis).

  2.4        Patofisiologi
        Phimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adesi alamiah antara prepusium dengan glans penis. Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, debris yang dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul di dalam prepusium dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans penis. Ereksi penis yang terjadi secara berkala membuat prepusium terdilatasi perlahan-lahan sehingga prepusium menjadi retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada usia 3 tahun, 90 % prepusium sudah dapat diretraksi. Tapi pada sebagian anak, prepusium tetap lengket pada glans penis, sehingga ujung preputium mengalami penyempitan dan akhirnya dapat mengganggu fungsi miksi. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa prepusium dan glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada didalamnya.
2.1        Pengkajian
a.    Inspeksi terhadap genetalia menunjuukkan letak abnormal uretra
b.    Bayi atau anak laki-laki tidak dapat berkemih dengan penis berada pada posisi naik yang normal
c.    Data dasar yang berhubungan dengan Phimosis adalah sebagai berikut :
-       Nyeri saat berkemih
-       Balloning
-       Retensi Urine

Pada pasien fimosis, penis memiliki ukuran yang jauh dibawah rata-rata, anak susah berkemih kadang-kadang sampai kulit prepusium menggelembung seperti balon. bayi atau anak sering menangis keras sebelum urine keluar, apabila sudah terjadi infeksi dibawah kulit pada penis yang tidak disunat penis menjadi nyeri, gatal-gatal, kemerahan dan membengkak serta bisa menyebabkan penyempitan uretra.

2.2        Diagnosa Keperawatan
v  Diagnosa Keperawatan Pre Oprasi
Diagnosa keperawatan Pre Operasi Phimosis adalah sebagai berikut :
a.    Gangguan rasa nyaman (Nyeri) b.d penekanan pada saat berkemih.
b.    Gangguan Eliminasi urine b.d retensi urine.
c.    Resiko infeksi saluran kemih b.d penumukan smegma di ujung penis.


v  Diagnosa Keperawatan Post Operasi
            Diagnosa Keperawatan Post Operasi Phimosis adalah sebagai berikut :
a.    Gangguan rasa nyaman nyeri b.d Diskontinuitas jaringan
b.    Resiko Infeksi b.d Diskontinuitas jaringan
c.    Kerusakan Integeritas Kulit b.d agen ijuri

2.3   Definisi Diagnosa Keperawatan
v  Definisi Pre Oprasi
a.    Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penekanan pada saat berkemih
Definisi : Merasa kurang senang, lega, dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual, lingkungan dan social

b.    Gangguan eliminasi urin b.d retensi urine
Definisi : kehilangan urine involunter yang dikaitkan dengan distensi berlebih pada kandung kemih

c.    Resiko infeksi saluran kemih b.d penumukan smegma di ujung penis.
                 Definisi : Mengalami peningkatan resikoterserang organismepatogenik

v  Definisi Post Oprasi
a.    Gangguan rasa nyaman nyeri b.d Diskontinuitas jaringan
Definisi :
Keadaan ketika individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama 6 bulan aatu kurang.

b.    Resiko Infeksi b.d Diskontinuitas jaringan
Definisi :
Keadaan ketika individu beresiko terserang oleh agen patogenetik atau oportunistik (virus, jamur, bakteri, protozoa, parasit lain) dari sumber-sumber eksternal, sumber-sumber endogen, atau eksogen.

c.    Kerusakan integeritas kulit b.d agen injuri

2.4        Intervensi Dan Rasionalisasi
v  Intervensi pre operasi
a.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d penekanan pada saat berkemih
Tujuan           :
-       Klien mengatakan nyeri berkurang atau tidak merasa nyeri
Intervensi      :
-       Kaji skala nyeri
R/ untuk mengetahui tingkat nyeri pasien sebagai pedoman untuk tindakan yang harus diberikan.     
-       Ajarkan teknik relaksasi
R/  merelaksasikan otot-otot sehingga suplai darah ke jaringan terpenuhi. 
-       Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat
R/ obat (anti plasmadik) untuk merelaksasikan otot-otot polos

b.     Gangguan eliminasi urine b.d retensi urine
Tujuan           :
-       Klien mengatakan tidak ada hambatan aliran urine
Intervensi      :
-       Kaji haluan urine
R/ retensi urine dapat terjadi karena adanya sumbatan 
-       Perhatikan waktu
R/ untuk mengetahui output pasien
-       Dorong klien untuk berkemih bila terasa ada dorongan tetapi tidak lebih dari 30 menit
R/ penahanan urine selama > 30 menit bias merusak sel kemih

c.    Resiko infeksi saluran kemih b.d penumpukan urine diujung penis
Tujuan           :
-       Tidak terjadi infeksi saluran kemih
Intervensi      :
-       Lihat tanda-tanda infeksi
R/ untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan.
-       Konsul dengan tim medis tentang prosedur sirkumsisi
R/ sirkumsisi mencegah infeksi saluran kemih (UTI)

v  Intervensi post operasi
a.    Gangguan rasa nyaman nyeri b.d Diskontinuitas jaringan
Tujuan :
-       untuk mengurangi nyeri
Intervensi :
-       Kaji rasa nyeri
-       Berikan posisi nyaman
-       Ajarkan rellaksasi distraksi
R/  Untuk mengetahui skala nyeri yang di rasakan klien
-       agar klien merasa nyaman
-       agar klien merasa rileks


b.    Resiko Infeksi b.d Diskontinuitas jaringan
Tujuan
-       Tidak terjadi infeksi
Intervensi
-       Kurangi resiko infeksi
R/ Agar tidak terjadi infeksi

c.    Kerusakan integritas kulit b.d agen injuri
Tujuan :






























BAB III
PENUTUP


3.1       Kesimpulan
Pimosis adalah suatu keadaan dimana preposium tidak bisa ditarik bisa dikarenakan konginetal atau didapat. Tetapi biasanya kondisi tersebut bisa normal dengan ditambahnya produksi hormon dan pertumbuhan.
Pimosis dapat mengakibatkan gangguan berkemih baik nyeri atau balloning (masa diujung penis) perlu dilakukan sirkumsisi biasanya itu merupakan indikasi untuk mencegah infeksi karena terkumpulnya urine yang mengandung glukosa sebagai tempat terbaik bagi pertumbuhan bakteri.

3.2       Saran
Jika ada anak mengalami gejala seperti gejala pimosis untuk segera mendapat penanganan untuk mencegah terjadi infeksi saluran kemih (UTI)






























DAFTAR PUSTAKA


Brenda, Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal – Bedah. Jakarta: EGC



Wong, whalley. 1991. Nursing Care of Infant and Children Volume II book 1.
USA: CV. Mosby – Year book. Inc

Suriadi. Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV. Sagung Seto